Laman

Friday, June 21, 2013

Fenomena Hot: BBM, Fatin, dan MUI



Di tengah hiruk pikuk dan kegaduhan mengenai kebijakan pemerintah untuk menaikkan BBM, muncul kegaduhan lain yang diciptakan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) dengan mencoba menolak terselenggaranya acara Miss World 2013 yang akan digelar pada September mendatang di Bali, Indonesia. Tidak cukup sampai di situ, ternyata ada statement lain dari MUI yang berusaha mengingatkan pemenang X-Factor Indonesia Session 1, Fatin Shidqia Lubis, untuk menolak tawaran tampil di acara tersebut. Tentunya, ini semakin membuat intensitas dan volume kegaduhan semakin tinggi.
Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada para Ustadz, Kiyai, dan Da’i yang terhimpun dalam MUI, jujur saya menulis artikel ini karena tergelitik oleh beberapa fenomena yang saat ini sedang hangat diperbincangkan yakni mengenai BBM, Fatin dan MUI. Menariknya, ternyata ada persamaan antara BBM dan Fatin. Yang pertama, keduanya baru-baru ini benar-benar menjadi daya tarik media masa dan masyarakat Indonesia. BBM yang merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat, merupakan isu yang sangat sensitif. Segala hal yang menyinggung BBM, terutama berkaitan dengan harga, akan menimbulkan gejolak mulai dari rakyat jelata sampai pejabat-pejabat tinggi negara. Sementara Fatin, yang dari awal kemunculannya sudah mengundang decak kagum - tidak hanya dari dalam negeri bahkan dari penyanyi luar negeri sekelas Bruno Mars sampai memberikan apresiasi yang tinggi untuk Fatin -, sehingga tidak mengherankan jika Fatin juga mempunyai magnet yang sangat kuat untuk menarik perhatian seluruh masyarakat Indonesia.
Persamaan kedua antara BBM dan Fatin yakni adanya kubu pro dan kontra yang menghiasi keduanya. Jika membahas BBM, jelas terlihat mana kubu yang mendukung kenaikan BBM dan mana yang menentang habis-habisan. Fatin Shidqia juga tidak mau kalah, ada kubu yang begitu membenci Fatin dan ada kubu yang sangat fanatik. Eksistensi kedua kubu inilah yang menjadi sebab kegaduhan terutama di media sosial. Saling serang dan adu argumen antara kedua kubu itu begitu panas. Tidak jarang dari mereka yang kemudian menggunakan kata-kata yang tidak sepatutnya diucapkan atau ditulis.
Namun yang lebih menarik, jika sebelumnya kubu kontra Fatin dikenal dengan sebutan haters, maka baru-baru ini muncul kubu kontra baru yang sebenarnya tidak layak dikategorikan sebagai haters. Hal ini disebabkan kubu ini pada awalnya sangat mengapresiasi Fatin, terutama karena Fatin mengenakan jilbab yang menjadi identitas bagi seorang muslimah. Ya, kubu ini adalah MUI. Saya yakin sebenarnya sikap kontra yang ditunjukkan oleh MUI saat ini bukan didasari oleh rasa benci, namun karena rasa cinta kepada penyanyi yang baru akan berusia 17 tahun pada 30 Juni mendatang. MUI menjadi kubu kontra terhadap tawaran yang diajukan panitia Miss World pada Fatin untuk tampil memeriahkan acara tersebut. Penolakan tersebut dilatarbelakangi oleh argumen yang menganggap acara Miss World merupakan acara yang tidak sesuai dengan nilai dan prinsip Islam, sementara Fatin yang mengenakan jilbab yang menjadi identitas seorang muslimah tidak layak hadir dan mendukung acara tersebut.
Kembali ke permasalahan BBM. Menaikkan atau tidak menaikkan harga BBM tentunya memiliki manfaat dan mudharat-nya sendiri. Kubu pro menganggap perlu adanya kenaikan BBM karena beban subsidi sudah terlalu besar, misalokasi, dan sangat membebani anggaran negara. Sementara yang menolak, menganggap kenaikan itu tidak perlu karena hanya akan menyengsarakan rakyat kecil dan masih ada cara lain yang bisa digunakan untuk menyelamatkan anggaran negara. Sebenarnya hal ini juga sama dengan Fatin. Keputusan untuk menerima atau menolak tawaran tampil di acara Miss World juga memiliki manfaat dan mudharat tersendiri. Manfaat yang dapat diperoleh diantaranya karena acara ini merupakan acara tingkat dunia, maka ini menjadi peluang yang begitu langka dan berharga bagi Fatin untuk dapat unjuk gigi di level internasional. Sementara mudharat-nya, versi MUI, acara yang sebenarnya jauh dari nilai dan prinsip Islam tersebut akan semakin mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk para muslimah berjilbab seperti Fatin, yang ditakutkan dapat melepas jilbabnya dan meniru kontestan Miss World yang mengumbar auratnya.
Seyogyanya, kita semua harus bisa berpikir jernih dan tidak emosional dalam menghadapi apapun, termasuk menghadapi fenomena hot ini yakni tentang BBM, Fatin, dan MUI. Menyikapi BBM, kita sebagai rakyat sudah seharusnya mampu untuk memiliki cakrawala yang lebih luas agar dapat bersikap bijaksana. Kenaikan harga BBM menjadi Rp 6.500 per liter sebenarnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air yang tinggal di pedalaman dan jauh dari peradaban. Di sana, harga BBM bahkan ada yang menyentuh angka Rp 70.000 per liter. Ini kemudian membuat mereka terheran-heran karena yang terjadi di perkotaan adalah rusuh dan demo habis-habisan menentang kenaikan yang hanya menjadi Rp 6.500.
Sama halnya dengan Fatin vs MUI. Di sini kita juga harus menyikapinya dengan wajar dan bijaksana. Jika yang ditakutkan adalah Fatin sampai mengumbar auratnya dan bisa mempengaruhi wanita-wanita berjilbab lain untuk menanggalkan jilbabnya, serta dianggap mendukung acara yang tidak sesuai dengan nilai dan prinsip Islam maka ini stigma yang hiperbolis (berlebihan). Acara X-Factor Indonesia, sebenarnya juga banyak sisi yang mengumbar aurat wanita. Kita lihat seringkali beberapa kontestan wanita lain mengenakan baju yang minimalis. Tetapi mengapa kemudian MUI malah sempat mengapresiasi Fatin ketika menjadi juara dalam acara yang notabene juga tidak sesuai dengan nilai dan prinsip Islam versi MUI?
Apabila kita mampu menyikapinya dengan bijaksana, maka melihat negara kita yang berasaskan Pancasila, seharusnya kita tidak terlalu mempermasalahkan Fatin yang menerima tawaran tersebut. Toh dengan begitu, makin banyak juga orang yang terbuka wawasannya mengenai wanita berjilbab. Bisa saja dengan melihat Fatin yang mengenakan busana yang serba tertutup mampu meruntuhkan persepsi mainstream yang mereka anut, yang menganggap wanita berjilbab hanya tunduk pada suami, tidak dapat bekerja diluar rumah, dan begitu terbatas aktivitasnya. Haqqul Yakin mereka juga akan kagum pada sosok Fatin yang berjilbab tapi mampu bernyanyi dan menghibur banyak orang. Siapa tahu kemudian pada suatu saat ada dari mereka yang tidak berjilbab, mau untuk berjilbab atau minimal menghargai mereka yang berjilbab dengan melihat penampilan Fatin di Miss World 2013. Wallahua’lam bisshawab




No comments:

Post a Comment